Aduh, ngantuknya…
Mata, please dong, jangan merem terus. Melek! Melek! Malu kalau ketahuan dosen. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tetap terjaga.
Suasana di siang hari, kelas cukup hening dan tertib. Kali ini kegaduhan, rumpian, cekikikan yang kerap ada sehingga kelasku dicap para dosen sebagai kelas ter-rame untuk sementara tidak menampakkan aksinya. Masing-masing fokus pada diri sendiri, entah itu hanya melamun, mendengarkan materi, corat-coret bangku, sms-an, facebook-an, sampai latihan soal. Serasa tidak ada energy lagi untuk berbicara apalagi tertawa. Aku, disibukkan dengan menjaga mata dan menahan kantuk agar tidak sampai benar-benar tidur.
Dibandingkan diluar yang terasa terik, dikelas memang cukup nyaman, adem. Sepertinya sekarang adalah waktu yang sangat tepat untuk tidur. Salut untuk pak dosen yang masih semangat mengajar. Dipadati oleh aktifitas sejak pagi tadi, badanku lelah, mungkin memang sedang membutuhkan tidur sebagai bentuk istirahat.
Namun apa daya, keheningan dan kenyamanan kelas mampu membuatku kehilangan kesadaran, tidur. Tidur yang kurang nyaman, namun tetap tidak bisa dihilangkan. Kurang nyaman karena sedikit-sedikit tersadar_demi mengingat dosen yang mungkin akan segera mengetahui bahwa aku tertidur, tidur lagi, tersadar, tidur lagi. Terbangun yang kesekian kali, mataku perlahan terbuka, kesadaranku semakin utuh. Dan betapa malunya aku ketika mataku sudah terbuka penuh, kesadaranku kambali, rasa ngantuk mendadak segera hengkang. Pak dosen tersenyum manis tepat memandangiku.
Firasat buruk menyebabkan ketakutan sangat. Sebelum firasat ini benar-benar nyata, aku sigap, menatap buku, mencorat-coret lembaran kertas, pura-pura mengerjakan soal. Saat menatap depan kelas, aku masih mendapati pak dosen tersenyum untukku_kali ini aku rasa sebagai senyum mendapatkan ide cemerlang.
Sejurus kemudian pak dosen berkata, “ yak, mbak yang disitu, coba kerjakan nomor sepuluh.” Sambil menunjuk dimana aku duduk. Ternyata dugaanku benar, pak dosen telah mendapatkan ide cemerlang untuk memberiku pelajaran.
Ya Allah, apa yang harus kukerjakan? Menatap soalnya saja aku tidak mengerti. Mana tidak boleh membawa buku ke depan lagi. Walaupun tidak mungkin, aku tetap berdoa dalam hati, agar soal kalkulus didepan bisa dikerjakan semudah mengerjakan soal Bahasa Indonesia. Huhh, ya sudahlah, apa boleh buat. Aku siap untuk menerima resiko apapun.
Teman-temanku tidak tahu peristiwa ngantukku. Mereka hanya menyangka kalau pak dosen menunjuk secara acak saja. Tidak ada maksud tertentu dalam menunjukku maju ke depan mengerjakan soal kalkulus. Tentang integral lipat.
Selesai berpikir, menghitung, menganalisa, akhirnya aku mendapat hasil akhirnya. Wow, ternyata aku bisa, dengan pengarahan dosen tentunya. Mulai saat itu, aku kagum dengan pak dosen kalkulus yang sangat sabar dan pandai membuat mahasiswanya mengerti. Dan, moment tersebut juga menjadi titik awalku mendapat nilai A untuk mata kuliah kalkulus!
Kesimpulannya: Yang tidak boleh ditiru, ngantuk dikelas. Sedangkan yang boleh ditiru, dapat nilai A untuk kalkulus.
Atau ada yang punya kesimpulan lain?
Kesimpulannya: Yang tidak boleh ditiru, ngantuk dikelas. Sedangkan yang boleh ditiru, dapat nilai A untuk kalkulus.
Atau ada yang punya kesimpulan lain?
Belajar UAS selesai. Buku-buku yang berserakan sudah kubenahi. It’s time to sleep. Duduk di tepi tempat tidur, kuraih handphone disampingku. Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Segera aku membaringkan diri, dan sebelum tidurku benar-benar lelap, aku teringat ada satu hal yang belum kupersiapkan untuk hari esok. Persiapan kelompok, jadi aku perlu bertanya dengan teman yang lain, “ mi, besok faiz diapain?” sms ku pada nikmah, yang biasa kupanggil mi. Jangan tanyakan darimana nama panggilan ini. Karena sejak kapan aku menggunakannya pun tidak tahu, mengalir saja. Tumben nikmah gak membalas, biasanya dia langsung membalas sms. Mungkin dia sedang tidur, pikirku menenangkan diri. Dan sedetik kemudian aku sudah mengikuti jejaknya. Tidur pulas.
Menjelang pukul delapan pagi, kelas rame dengan mahasiswa yang serius merekam rumus-rumus dikepala. Persiapan paling akhir sebelum beperang melawan soal-soal Aljabar Linier. Termasuk aku. Keseriusanku dihentikan oleh senyuman faiz. Dalam hati, tumben faiz senyam senyum denganku. Biasanya kan ekspresi dia datar-datar saja. Belum berakhir keherananku, faiz berkata sambil berlalu di sebelahku menuju bangkunya, “emang mau diapain?” diikuti senyum lebarnya.
Aku membeku terpaku dibangku. Berusaha mencerna apa yang terjadi, jangan-jangan, TIDAK! Kuambil handphone, menu-message-sent item, di daftar sent item paling atas, bertuliskan nama faiz. Bukan nikmah. Ya Allah Ya Rabbi, berarti aku salah kirim. Wadduh, gak asik nih, faiz tahu kalau kita merencanakan sesuatu untuk memberi kejutan ulang tahunnya. Ow..ow..untuk teman-teman, maafkan aku ya, telah mengacaukan rencana. Tadi malam yang muncul di bayangan adalah faiz, gak sadar kalau justru nama faiz yang menjadi tujuan sms. “Kepolosanku” untuk yang kesekian kali.
Ujian berakhir, faiz mendekatiku, masih dengan senyumannya. Maaf iz, salah kirim, kataku mempermalukan diri. Ya, salah kirim. Seharusnya sms itu untuk nikmah, pantas saja sampai pagi dia nggak membalas smsku…
Akhirnya kita berlima sepakat tidak menyiapkan kejutan apa-apa setelah mereka puas menyalahkanku. Aku hanya bisa pasrah. Dan mau diapain juga oleh kita, faiz pasti sudah bisa menebak kalau hanya akal-akalan saja. Tapi kue ulang tahun dan perayaan kecil untuknya tetap ada. Met ultah ya iz…
Aku masih tak habis fikir, kenapa pengalaman diatas tidak menjadikanku lebih berhati-hati dan menjalankan segala sesuatu secara sadar. Karena tak lama kemudian, ketika ibunda Irma berkunjung di kosannya. Salah kirim tetap menjadi kesalahanku. Ya Allah, tidak seharusnya aku melakukan kesalahan yang sama. Ya, sms yang seharusnya bukan untuk Irma malah sukses terkirim untuk Irma. “ mi, mama Irma ada di kosannya sekarang. Rame-rame kesana yuk, silaturrahim, sama siapa tahu kecipratan oleh-oleh.” Sms k pada nikmah agar diteruskan ke yang lain.
Belum sempat aku meletakkan handphone, muncul sms masuk. Dari Irma. Wah, kebetulan sekali, baru aja ngomongin dia, panjang umur. Open message, “iya mi, makasih.” Bunyi sms Irma yang biasa memanggilku normi. Oh, tidaaak, salah kirim lagi!
Memang susah kalo SIMcard kita ketuker sama SIMcard orang lain dan kita gak sadar. Jadinya kalang kabut. Pengalamanku, setelah sadar kalo SIMcard di handphone bukan milik sendiri, kita harus konfirmasi sama banyak orang. Sebelumnya, pasti ada yang kepikiran kalo gak mungkin SIMcard kita ketuker tapi kita gak sadar. Mungkin-mungkin saja, buktinya aku. Sebenarnya aku juga heran, kenapa aku begitu polosnya sehingga sering melakukan hal-hal aneh.
Di suatu pagi, dikamar,
“aslkm, dimohon hadir pada jam…ditempat… sangat ditunggu kehadirannya.” Bunyi tulisan di layar laptopku. Kebetulan simcardku sedang kupasang di modem yang tertancap di laptop. Gak ada nama pengirimnya. Hanya tertera nomor pengirimnya saja. Mungkin karena nomor yang terbaca di laptop hanya nomor yang di simcard saja, jadi belum ketahuan dari siapa. Ntar kalo simcardnya udah dipindah di handphone, pasti namanya tertera. Lalu ku cek contact list di tampilan modemnya, loh, kok kosong. Gak ada contact sama sekali. Masa’ gara-gara tadi malam gak berhasil connect internet, contact di phonebook simcard- ku jadi hilang semua. Pikirku saat itu. Pikiran yang seharusnya tidak terlintas.
Buru-buru simcard di modem aku pindah, dipasang ke handphone. Kok contact di simcard tetep kosong, yang ada contact di memori handphone aja. Lama aku berfikir hal ini benar atau tidak, sampai akhirnya aku memutuskan bahwa semua contact di simcardku yang sangat berharga itu hilang. L.
Sampai saat ini aku menyesal mengapa saat itu pikiranku konyol banget. Gak kepikiran kalo simcard ku tertukar.
Tak lama kemudian,
Muncul sms dari temen yang aku tahu nomornya dan seharusnya nomor ini bernama di handphone. Berarti memang contact di simcardku hilang semua. Hiks, sedih.
Lalu,
“ aslkm, mbak, ntar sore jadi gak?” lagi-lagi sms tanpa nama masuk di handphoneku.
Tadi malam aku janjian sama adek kelas untuk ketemuan. Pasti yang sms adek yang udah janjian tadi malam tapi pinjam hape temennya.
“iya, jadi.” Singkat aku membalas sms. Sambil dalam hati menebak kalo adek ini pinjem hape temennya yang berkode jawa tengah.
Pagi menjelang siang, di kampus,
“yul, tolong nanti bawakan catatan …” aneh, pasti sms ini salah kirim, jadi dengan cepat aku balas, “maaf, ini bukan yuli.”
Tak lama kemudian, “nor, simCard kita ketuker.” Sms masuk lagi. Tertanda it’s mine. Loh, masa’ nomorku sendiri bisa sms, jadi horror gini..batinku. kemudian, tek. Aku tersadar. Oia, simCard ketuker.
Pantas saja , contact phoneookku gak ada, terus, banyak sms aneh.
Terbangun dari ketidaksadaran, aku bergegas membalas sms yuli, “oia yul, aku baru sadar. Sekarang kamu dimana?”
“dikosan. Kamu dimana?”
“dikampus.”
Hhh, karena ini kesalahanku, aku yang harus nyamperin yuli nih. Tapi males banget jalan ke kosan dan ke kampus lagi. Meminjam motor menjadi pilihan. Meluncurlah aku dari parkiran kampus menuju kosan. Di tengah jalan, dari jauh aku melihat yuli berjalan, yang sepertinya menuju kampus. Syukur Alhamdulillah yuli ke kampusnya lewat jalan depan. Jadi kita bisa papasan. Setelah dekat, kami hanya senyum-senyum saja. Tak ada kata yang terucap. Sampai akhirnya tertawa dan, “dudul banget sih, bisa gak nyadar kalo simCard ketuker.” Kata yuli.
“aku juga heran yul, ”
Bersama kita menuju kampus.
Di parkiran,
“kok kamu langsung nyadar kalo simcard kita ketuker?” tanyaku pada yuli.
“ya iyalah, mana ada di phonebook ku nama irin, bagas, lagian aku gak pernah nyimpen contact di simcard. Kesimpulanya, punya norma ini.” Yuli menjelaskan. Irin, bagas, adalah adekku.
“iya ir, aku udah di kampus. Iya, tadi aku pake nomornya norma. Simcard kita ketuker.” Kata yuli pada irma di telpon.
“pantas yul, tadi aku sempet kepikiran, kok bisa adekku ini pake nomor jawa tengah, eh, ternyata itu sms untukmu. Padahal udah aku jawab, iya, jadi.” Ceritaku pada yuli
“hah, apaan. Tadi di sms mu itu nanyain, ntar sore jadi gak?” kata Yuli.
“jangan-jangan dewi. Kamu balas ‘iya’, aduh norma, ntar sore aku gak bisa.” Yuli mulai panik. Yah, namanya juga ketiaksengajaan yul.
Dan akhirnya, di handphoneku sekarang memang benar ada simcardku.
“halo, yuli..” kata Irma di seberang telephone yang langsung kupotong. “bukan mb ir, ini bukan yuli. Ini norma.”
“hih, kalian ini, yang bener dong, tadi katanya yuli pake nomormu?” protes Irma.
“iya, sekarang udah tukeran lagi. Hihi.”
Nah, sekarang pertanyaannya, kok bisa simcard kita ketuker?
Tadi malam, kita sama-sama ngenet menggunakan modem. Dan warna modemnya sama-sama putih. Yuli selesai ngenet, tidur, aku baru mau mulai. Karena gak connect-connect, aku coba pake modemnya yuli. Otomatis, simcard yang di modem yuli aku pindah di modemku, biar gak hilang simcard yuli. Tapi tetep aja gak connect. Aku mencoba pake laptop yuli, gak connect juga.
Paginya, ternyata aku lupa kalo malemnya aku pindah-pindahin simcard!
7/21/2010 3:08:56 AM
“Allaahumma baarik lanaa fii rajab wasy-sya’baan, wa ballighnaa ramadhaan”
" Ya Allah paringana berkah ing wulan rajab, wulan sya'ban, dumugi wulan ramadhan"
" Ya Allah paringana berkah ing wulan rajab, wulan sya'ban, dumugi wulan ramadhan"
Pujian ini hampir selalu dikumandangkan setelah adan sebelum iqamat selama bulan rajab ini di masjid dekat rumah. Menandakan bahwa kurang lebih sebulan lagi kaum muslim seluruh dunia memasuki bulan ramadhan, bulan yang penuh ampunan, berkah, pahala melimpah.
Akankah bulan suci ramadhan kali ini akan member kesan mendalam bagi ruhiyah kita? Bisa iya, bisa tidak. Tergantung kemauan masing-masing. Kemauanlah kunci membuka keberhasilan. Dimana ada kemauan, disitu ada jalan, kata pepatah.
Lantas cukupkah hanya mengandalkan kemauan? Pasti tidak, dan pasti semua juga tahu, dibutuhkan langkah atau usaha. Tapi apakah semua pasti tahu langkah apa yang harus ditempuh?
senja hari ini indah
alam berwarna kuning keemasan
awan tebal hitam dikelilingi kuning keemasan
semua senang
anak kecil bermain
ibu-ibu bapak-bapak bercengkerama di tengah kampung
alam berwarna kuning keemasan
awan tebal hitam dikelilingi kuning keemasan
semua senang
anak kecil bermain
ibu-ibu bapak-bapak bercengkerama di tengah kampung
25 Juni 2010
Dunia anak menyenangkan
Bermain bermain bermain
Tidak ada rasa lelah
Selalu punya cara unik
Melawan kebosanan
Bermain bermain bermain
Tidak ada rasa lelah
Selalu punya cara unik
Melawan kebosanan
Bangun tidur bersepeda
Habis itu lari-lari
Kemudian memanjat pohon
Lalu mencari ikan di empang
Terus balapan tamiya
Habis itu lari-lari
Kemudian memanjat pohon
Lalu mencari ikan di empang
Terus balapan tamiya
Selanjutnya menerbangkan layangan
Dan jika gerimis datang
Semua lebih riang
Ada harapan
Hujan-hujanan
Dan jika gerimis datang
Semua lebih riang
Ada harapan
Hujan-hujanan
25 Juni 2010