Buat apa? Kamu masih saja membawa kotak itu dalam perjalanan. Kamu pikir dengan begitu bisa menyelesaikan masalah? Dengan membawanya, apakah lantas kamu bisa menyenangkan hati mereka, menghibur, dan membuat mereka akan merasa lebih baik? Apakah bisa menghapus kesalahan masa lalu? Hei, sadarlah. Kamu sudah sangat tahu bahwa mereka bahkan tidak pernah tahu kamu punya kotak tersebut.
Kamu sering mengeluh, langkah ini berat sekali. Bagaimana bisa berlari mengejar ketertinggalan? Pejalan lain sudah tidak kelihatan di depan, jarak semakin membentang. Ya, mengapa? Menurutmu sendiri kenapa bisa berat melangkah? Pernahkah kamu menduga bahwa penyebabnya adalah kotak yang selalu kamu bawa kemanapun-kapanpun itu?
Buang saja kotak itu, yang berisi perasaan bersalah.
Saya lagi senang membuat fiksi mini atau cerita mini. Jadi sabtu ini saya memberanikan diri mengikuti lomba CERMIN @bentangpustaka, dengan tema: YOGYAKARTA. Dan berikut Cerita Mini yang barusan saya kirimkan:

“Bapak, lebih baik ikut saya saja. Ndak usah bekerja lagi.” Kata Yanto, yang sedang membujuk Suwarno
untuk kesekian kalinya agar berhenti bekerja. Rupanya menjadi anak seorang abdi
dalem dan berada di sekitar keraton sejak kecil tidak lantas membuat hati Yanto
terikat dengan kediaman para raja tersebut. Sampai saat ini, ketika hidupnya
sudah mandiri, dan bisa dikatakan sudah mapan, ia masih tidak mengerti jalan
pikiran Suwarno yang masih mau menjadi abdi dalem tanpa pamrih, meskipun
tersedia pilihan lain yang menurutnya jauh lebih bagus.
“Ndak perlu le,
bapak senang mengabdi di keraton. Memang tempat tinggal bapak masih seperti ini,
kecil, dan ndak banyak isinya. Tapi
dengan mengabdi, hidup bapak selalu dilimpahi keberkahan.” Jawab Suwarno sambil
menanggalkan blangkon dan jariknya.
“Keberkahan seperti apa?” Yanto akhirnya berani
mempertanyakan setelah sebelumnya hanya memendam.
Sekarang giliran Suwarno yang bertanya dalam hati, apa yang
sebenarnya dipelajari Yanto di sekolah tinggi? Apakah sekedar materi?
“Kamu bisa sekolah tinggi, itu salah satu berkahnya le.” Suwarno ingin menjawab begitu. Namun
mulutnya masih terkunci. Suwarno sudah berjanji pada salah satu sahabat sultan
yang sering sowan ke keraton agar tidak memberitahu Yanto bahwa ia yang
membiayai kuliahnya di kota pelajar ini. Jadi sampai sekarang, yang Yanto tahu,
ia mendapat beasiswa.
***
Meskipun saya mengirimkannya hanya beberapa menit sebelum waktu habis, semoga saja cerita ini bisa diterima, :))
gambar dari sini
Bukan aku tidak mengerti isyarat-isyarat itu. Aku tahu, setiap tindak-tandukmu mengacu pada kesukaanku. Bahkan tiba-tiba kau mampu menghabiskan beberapa bacaan novel. Padahal sebelumnya kau mempertanyakan, untuk apa membaca novel? Hanya untuk dibohongi saja? Temanmupun sampai heran, kau, yang menurutnya berprinsip baja, bisa dengan segera mengubah selera.
Namun aku hanya diam.
Maafkan, pintu hatiku masih tertutup ragu.



