Alhamdulillah.
Purwokerto, 27 Agustus 2017 07:38 AM.
Rezeki memang tidak hanya dalam bentuk materi ya. Punya teman-teman yang baik juga merupakan sebuah rezeki. Jumat malam teman-temannya Wulan datang dari beberapa kota. Dan... salah satu temannya membawakan brownies dan cookies buatan sendiri! Alhamdulillah. Sabtunya, Wulan and the friends mau jalan-jalan. Mereka aku pinjami motor karena teman yang seharusnya mengantar mendadak sakit. Eh, sebelum berangkat jalan-jalan, Wulan beli lauk dan stok indomie agar hari itu makanku terjamin. Sabtu siang menjelang sore, Diana dan Rafina main ke kontrakan, masak-masak. Otomatis ada makanan lagi, dan masakan untukku sengaja khusus dibuatkan yang no spicy! Alhamdulillah.
| Rejeki anak solihah, 😄 |
Dalam hal ini, menurutku, ada dua hal yang membuatku patut untuk bersyukur. Pertama, rezeki dalam bentuk materi, yaitu makanan yang banyak, :) dan kedua rezeki non-materi, yaitu berupa teman-teman yang baik. Sebenarnya Wulan tidak perlu repot-repot mikirin dan beliin makanan untukku. Meskipun tidak ada motor, kan aku bisa pesen makanan via Go-Food. Diana dan Rafina juga sebenarnya tidak perlu membedakan makanan untukku, meskipun aku tidak bisa makan pedes, aku bisa saja tetap makan makanan yang dimasaknya, kalaupun pedes, aku bisa icip sedikit, :). Mereka mau main di kontrakan saja aku sudah senang.
Itu baru kebaikan teman-teman hari sabtu kemarin. Belum lagi tak
terhitung banyaknya kebaikan-kebaikan orang lain yang selalu saja aku
terima. Dan baiknya lagi mereka, mereka selalu sangat berfikir positif
tentang aku. Dibilang yang aku baiklah, santunlah, dll. Padahal bisa
jadi aku tidak sebaik itu. Aku jadi teringat doa Abu Bakr ketika dipuji:
Ya
Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri
dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku.
Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan,
ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan
janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka [1]
Ya, bisa jadi aku tidak sebaik sangkaan mereka. Maka, semoga Allah mengampuniku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku.
Jadi, kegiatan kemarin, selain gabung sarapan dengan teman-temannya
Wulan, ngobrol banyaaaaaaak dengan Diana dan Rafina, aku juga
menyelesaikan membaca satu buku, karya terbarunya Andrea Hirata yang berjudul
Sirkus Pohon.
![]() |
| Buku Sirkus Pohon karya Andrea Hirata |
Pesan yang bisa diambil dari buku ini adalah tentang kerja keras dan menunggu apa yang diyakini. Ya meskipun pesan dari buku tidak bisa langsung disimpulkan dengan kedua hal tersebut (akan lebih dapat pesannya ketika membaca langsung), tapi setidaknya kedua hal tersebut tersurat didalamnya. Seperti dalam kalimat 'Bangun pagi, lets go' yang sering diulang-ulang, dan dalam judul Babak V, cinta memihak mereka yang menunggu.
Purwokerto, 27 Agustus 2017 07:38 AM.
Jadi ceritanya, Jumat kemarin aku cuti. Untuk apa? Bukan untuk jalan-jalan, atau sedang ada keperluan keluarga, niat ku untuk cuti mempunyai tujuan yang lebih dari sekedar itu, yaitu: untuk menyelesaikan jurnal.
Hasil cutinya gimana?
Nah, kalau ditanya hasil cuti, hiks, saya sedih. Karena ternyata simulasinya mentok. Nilai throughputnya tidak keluar di flow monitor. Nilai power untuk masing-masing ueNodes juga belum bisa dilihat, karena aku belum tahu cara menampilkannya.
Disaat mentok seperti itu, bukan lantas kepo pengen tahu solusinya, eh malah aku mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kok kamar begini ya, beberes ah. Kok dapur begitu ya, berbenah ah. Hmm, What a random day.
Terus?
Ya, sekarang aku harus kepo untuk bisa menemukan solusinya. Rencananya hari ini aku mau belajar struktur OOP dulu, biar setidaknya bisa baca script lebih jelas, dengan harapan pas modifikasi tidak asal yang penting scriptnya finished successfully ketika di running.
![]() |
| Penampakan simulasi dengan ns3 |
Terus kemarin, disaat teman-teman pada piknik dan day out kemana, saya dirumah saja. Jadi pembaca dan penulis yang baik, :)) . Alhamdulillah, bisa menikmati waktu membaca buku yang rasanya kok sekarang sangat susah meluangkan waktu untuk sekadar membaca.
Buku yang aku baca adalah bukunya Mitch Albom yang berjudul Selasa Bersama Morrie. Setelah membaca buku Mitch untuk pertama kali, menurutku bukunya dia bagus. Jadi aku beli buku-buku dia yang lain. Selasa Bersama Morrie juga bagus. Banyak "pesan-pesan hidup" yang disampaikan, yang membuat aku jadi berfikir, iya ya, benar apa yang disampaikan. Seperti yang agama saya ajarkan ataupun perintahkan.
![]() |
| Penampakan Buku Selasa Bersama Morrie |
Kalimat yang aku sukai dari buku ini salah satunya adalah tentang emosi.
"Ambil contoh salah satu emosi-cinta kepada seorang wanita, atau kasihan kepada orang yang kita sayangi, atau yang tengah kualami, rasa takut dan nyeri akibat penyakit yang mematikan. Apabila kita menahan emosi-emosi itu-apabila kita tidak membiarkan diri mengalaminya-kita tidak pernah dapat mematikan rasa, kita terlalu sibuk menghadapi rasa takut. Kita takut mengalami rasa nyeri, kita takut mengalami rasa sedih. Kita takut mengalami penderitaan akibat cinta."
"Tapi dengan membiarkan diri mangalami emosi-emosi ini, dengan membiarkan diri terjun kedalamnya, sampai sejauh-jauhnya, kita akan mengalami secara penuh dan utuh. Kita tahu arti sakit. Kita tahu arti cinta. Kita tahu arti sedih. Dan hanya ketika kita mengatakan, 'Baiklah. Aku telah mengalami emosi itu. Aku kenal betul emosi itu. Sekarang aku perlu mematikan perasaan dari emosi itu untuk sementara.'" (Senja Bersama Morrie, Mitch Albom, hal. 110)
Yang aku tangkap dari penuturan tersebut adalah, rasakanlah segala macam rasa, untuk kemudian bisa melepaskannya, let it go. Ini mentang-mentang perasaanku sedang random, :D
Tapi tidak semua hal yang disampaikan dalam buku ini membuatku sepakat. Ada hal-hal dimana itu tidak sesuai dengan prinsip dasarku selama ini. *Hahah, tetep ya, memfilter apa yang dibaca, didengan, dan dilihat.*
Begitulah ceritaku tentang dua hari kemarin. Semoga hari ini hidupku lebih berfaedah, lebih jelas, dan tidak random, :))
Purwokerto, Ahad, 20 Agustus 2017 07:13 AM.
Akhirnya saya selesai membaca serial Supernova karya Dee Lestari. Selesai membaca, yang terfikir di benak saya adalah, kok bisa ya Dee membuat tulisan yang genius seperti ini. Meskipun begitu, saya tidak pernah bisa menangis membaca Supernova. Karena mungkin, spiritualitas versi saya berbeda dengan spiritualitas yang dikisahkan Dee dalam serial ini.
Rumah, 8 Mei 2016 13:54WIB



